Dinas Pertanian Nusa Tenggara Timur

KELOR BERLIAN HIJAU BUMI NTT

Dinas Pertanian Nusa Tenggara Timur > Blog > Berita Terbaru > KELOR BERLIAN HIJAU BUMI NTT

Dahulu tanaman Kelor dikenal sebagai sayuran hutan. Sejenis tanaman liar yang tumbuh bebas di semak belukar dalam kawasan hutan lebat. Keberadaanya menjadi sayuran alternatif. Sejenis sayur yang dipilih bila suka. Buah tangan seorang petani, ketika pulang dari hutan. Dianggap sayur tidak popular karena dianggap tidak bernilai gisi sama sekali ketimbang daun papaya yang dianggap lebih terhormat karena ada bunga dan buahnya yang lebih bernilai ekonomis.

Masih dalam kisah dahulu, nasib Kelor tidak pernah dianggap di mata masyarakat. Ketika sebagian masyarakat di Kota karang ini mengkonsumsi kelor, maka situasi ini dilihat sebagai sebuah pemandangan yang tidak elok. Mengkonsumsinya harus disembunyikan dan dipastikan aman dari pandangan mata orang-orang di sekitarnya. Apa lagi bila sayur ini sampai dihidangkan kepada tamu, maka akan menjadi gosip yang tidak sedap.  Dianggap sebagai suatu hal yang tidak lasim.  Bentuk ekspresi yang bertendensi penghinaan atas dasar ketidaksukaan kepada tamunya. Bagai yang terilis dalam kalimat berikut “Sudah, kasih saja mereka makan daun kelor“. Sayur ini sangat diremehkan. Dari sisi lain mengkonsumsi daun Kelor, menunjukan betapa melaratnya keluarga tersebut. Dengan lain perkataan,  mengkonsumsi sayur kelor identikan dengan kondisi bencana kelaparan hebat atau karena alasan ekonomi lemah lembut. Potret masyarakat di bawah garis kemiskinan yang amat sangat. Cara perolehanya juga didapat secara gampang dari antara semak belukar yang disediakan alam secara gratis. Pelambang yang melegitimasi golongan masyarakat ekonomi lemah yang seolah dipangku secara permanen. Pesona Kelor tidak pernah diangkat untuk sesuatu yang baik. Nasibnya sudah dijadikan pelambang obyek sindiran yang tidak mengenakan. Seperti dalam ungkapan “Dunia ini tidak selebar daun kelor.”  Keberadaanya sebagai pelambang yang sangat sempurna melengkapi ungkapan sindiran  kepada oknum tertentu yang dipandang berpikiran sempit dalam kelompok ataupun di tengah masyarakat.

Ketika Gubernur Baru NTT “Viktor Bungtilu Laiskodat”  mengangkat Kelor atau Merungga menjadi salah satu program unggulannya, sempat mengejutkan perhatian semua kalangan. Hal ini dapat dipahami karena keawaman dan keterasingan tanaman kelor,  tiba-tiba menjadi salah satu program proritas.

Ketegasan Bapak Gubernur Laiskodat mewajibkan menanam Kelor kepada masyarakat NTT, Justru menjadi sangat menarik. Fenomalitas kelor disosialisasikan keunggulannya di tengah masyarakat Nusa Tenggara Timur yang sungguh luar biasa.

Sebagai putra asli tanah Timor, Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat yang akrab disapa Pak Viktor, sangat  mengenal tanaman merungga yang merupakan bagian dari lingkung tanah kelahiranya. Kelorisasi menjadi salah satu program kerja proritasnya, bukan karena tanaman ini sempat menjadi sandaran hidup di masa kecilnya. Ketertarikannya  pada kelor karena benar-benar memiliki refrensi yang sangat lengkap akan keunggulan tanaman ini yang memiliki kandungan gisi yang tinggi dari tanaman pangan lainnya.

MediaTribun.com memuat hasil penelitian badan kesehatan dunia WHO menunjukan bahwa kandungan gizi dalam semangkuk sayuran kelor setara  dengan 15 gelas susu putih. Nilai gizi  tinggi yang terkandung dalam kelor ini  mematahkan kandungan gizi dari tanaman pangan lainnya. Gizi kelor sangat baik bagi perkembangan intelktual anak selaku generasi penerus bangsa.

Program Kelorisasi Gubernur Viktor Laiskodat, sebenarnya menunjukan satu kecerdasan yang memiliki Keunggulan lebih. Tingkat kemampuannya sangat kritis. Tanaman kelor berbasis lahan marginal sebagai satu keistimewaannya menjadi  salah satu unggulan sangat pontensial dari bumi Flobamora yang beliau lukiskan sebagai “Berlian Hijau“ yang menjanjikan devisa bagi masa depan NTT yang lebih baik dalam mendukung pangan lokal. Program ini Indikatornya jelas. Pertama, Jenis sayuran yang berniali gizi tinggi bagi peningkatan kecerdasan anak NTT. Kedua, salah satu Komoditi kualitas ekspor yang mendatangkan devisa. Ketiga, menjadi destinasi wisata menarik yang akan dikembangkan dalam skala besar  dalam hamparan lahan marginal wilayah Nusa Tenggara Timur yang sangat pontensial. Keempat, sebagai satu lapangan kerja baru yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja asal NTT.

Kelorisasi adalah satu lapangan kerja baru yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja. Bentuk keperihatinannya akan tenaga kerja asal NTT yang selama ini yang melintang pukang ke luar negeri dan wilayah lain di Indonesia sebagai pekerja atau buruh kebun Kelapa Sawit di Kalimantan, Sumatra, Kepulauan Riau hingga diberbagai lokasi pertambangan di wilayah Provinsi Papua, menjadi satu perhatian utama Laiskodat akan saudara-saudarannya  setanah Flobamora yang merantau ke negeri asing demi sesuap nasi  bagi masa depan keluarga dan pendidikan anak-anaknya. Ketegasan Bapak Gubernur Laiskodat, ketika meratorium tenaga kerja asal NTT, sangatlah tepat mendapat acungan jempol dan decak kagum dari berbagai kalangan elit NTT maupun Nasional. Langkah bijak yang patut diapresiasi. Profisiat Bapak Gubernur.  < m.bkn/29/10/18 >

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 Dinas Pertanian Nusa Tenggara Timur, All rights reserved. Powered by Webtocrat Motion