Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur

Work from Home (WFH)/Work from Office (WFO) versus Work From Field (WFF)

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur > Blog > Uncategorized > Work from Home (WFH)/Work from Office (WFO) versus Work From Field (WFF)

Memasuki pertengahan tahun 2021 kembali Nusa Tenggara Timur menghadapi lonjakan warga terinfeksi Covid-19 yang cukup signifikan. Menurut Juru bicara Satuan Tugas Covid-19 NTT, Marius A Jelamu, Kamis (22/7/2021) malam, melaporkan, kenaikan kasus tersebut membuat total kasus Covid-19 di NTT menjadi 33.992. Kondisi ini membuat adanya himbauan pemerintah untuk bekerja dari rumah dan/atau bekerja dari kantor. Himbauan ini menindaklanjuti Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2021 yang dimulai sejak 19 Juli 2021.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT menindaklanjuti himbauan ini dengan melakukan Work From Field (WFF) atau bekerja dari lapangan/kebun. Ini dilakukan karena terbukti sektor pertanian mampu beradatasi terhadap wabah Covid-19 yang mana ASN bekerja langsung dari kebun bersama petani sekaligus mendorong percepatan kegiatan pertanian dan ketahanan pangan dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan.
WFF dilakukan dibeberapa titik salah satunya diareal persawahan Tunggadea Dusun Padang Beringin Desa Nunkurus Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang. Kegiatan persiapan lahan didahului dengan pengolahan tanah menggunakan rotary pada arel yang rencananya seluas 30 Ha. Pengolahan tanah dilakukan oleh Tim Brigade Alsintan Bidang PSP2HP dan Tim Bidang KKP. Kegiatan yang langsung dikomandani oleh Kadistan-KP Provinsi NTT Lecky Frederich Koli, STP memulai action dilapangan sejak hari Selasa, 20 Juli 2021. Dengan memanfaatkan air yang bersumber dari sumur bor dengan bantuan pompa air maka pada Musim Tanam (MT) II yaitu April-September (Asep) diharapkan akan mampu meningkatkan produksi dan produktifitas serta mengubah kultur petani yang kurang optimal memanfaatkan MT II tersebut.
Setelah pengolahan tanah menggunakan rotary selesai dilakukan maka benih jagung siap untuk ditanam. Penanaman dilakukan oleh ASN DistanKP Provinsi NTT berserta petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sabat dengan sistem Tugal maupun memakai Corn Planter Implement/Alat Tanam Mobile (ATM). Penanaman dilakukan efektif sejak hari Jumat 23 Juli 2021 dan sampai dengan berita ini diturunkan sudah sekitar 10 Ha lebih telah tertanam. Penanam ini akan terus dilanjutkan hingga areal 30 Ha yang merupakan rencana awal terealisasi seluruhnya. Tidak sebatas pada jagung saja, pada persawahan Tunggadea ini juga akan ditanami dengan cabe dan juga bawang merah walaupun tidak dalam arel yang luas.
Harapan besarnya adalah lewat WFF ini, seluruh kegiatan yang berkaitan langsung dengan lapangan dapat terselesaikan mulai dari pemanfaatan Alsintan, penyaluran pupuk obat-obatan serta benih, gerakan pengedalian hama/penyakit, kegiatan-kegiatan perbanyakan benih dan pengawasan serta supervisi, panen dan pasca panen, pengolahan hasil pertanian, kegiatan penyuluhan, pendistibusian pangan bahkan sampai pada konsumsi pangan yang Beragam, Bergizi, Sehat dan Aman (B2SA) serta penurunan angka sunting.
de..072021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2021 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, All rights reserved. Powered by Webtocrat Motion