Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur

PENYIAPAN BENIH VANILI

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur > Blog > Uncategorized > PENYIAPAN BENIH VANILI

Vanili merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi dengan fluktuasi harga yang relative stabil dibandingkan dengan tanaman perkebunan lainnya. Vanili memiliki nilai ekonomi cukup tinggi karena ekstrak buahnya yang dikenal sebagai sumber bahan pengharum pada bahan makanan dan minuman. Vanili Indonesia banyak di gemari oleh banyak konsumen, baik didalam negeri maupun dari luar negeri. Untuk memenuhi permintaan serta menjaga kualitas vanili, perlu dikembangkan suatu metode budidaya vanili yang mampu menghasilkan benih vanili dalam jumlah banyak, cepat dalam waktu singkat dan berkualitas.
Salah satu factor penentu keberhasilan pengembangan vanili adalah adanya dukungan ketersediaan bahan tanam unggul dan bermutu. Bahan tanam vanili dapat dikembangkan secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan secara generatif hanya dilakukan dalam skala penelitian sebagai usaha meningkatkan mutu genetic tanaman, karena biji vanili tidak mempunyai endosperm sehingga untuk tumbuhnya diperlukan media tanam dalam kultur jaringan. Sedangkan untuk tujuan komersil tanaman vanili diperbanyak secara vegetative. Perbanyakan vanilisecara vegetative (klonal) dapat dilakukan dengan cara setek yang berasal dari kebun benih sumber varietas unggul yang telah dilepas / ditetapkan oleh pemerintah.
Penyiapan benih vanili dapat dilakukan dengan perbanyakan dengan setek yang meliputi :
a. Pengambilan Setek
1) Pengambilan Setek pertanaman dilakukan pada umur ≥ 1 tahun, dengan cara memotong sulur pada awal musim penghujan.
2) Pengambilan sulur dan pemotongan stek dengan menggunakan pisau curter yang tajam, apabila pemotongan menggunakan gunting dikhawatirkan jaringan sulur atau setek akan rusak.
3) Pada umumnya setiap tanaman yang diambil mempunyai satu sulur dengan panjang sulur ± 2 m (10 – 15 ruas) sehingga dapat diperoleh ± 2 setek panjang dengan masing – masing 5 -7 ruas atau stek pendek satu ruas berdaun tunggal (satu daun) yang disemaikan terlebih dahulu.
4) Pengambilan setek selanjutnya dilakukan dengan interval 4 – 6 bulan.
Gamabar 1 : Setek 7 ruas yang sudah dipotong akarnya dan 3 ruas pucuk siap ditanam di lapangan ( 4 ruas dalam tanah, daun di hilangkan dan 3 ruas diatas diikatkan ke pohon panjat)

b. Waktu Pengambilan Bahan Tanam
1) Waktu pengambilan bahan tanam sangat tergantung dari cara penanaman yang akan dilakukan. Biasanya petani tidak melakukan persemaian terlebih dahulu, tetapi langsung ditanam dilapangan dengan menggunakan setek panjang maka waktu pengambilan setek segera menjelang waktu tanam.
2) Apabila menggunakan setek pendek (satu ruas berdaun tunggal) maka waktu pengambilan setek dilakukan 4 – 6 bulan sebelum tanam karena diperlukan persiapan persemaian terlebih dahulu.
3) Sulur yang baik untuk dijadikan setek adalah sulur yang belum pernah berbunga dari pohon yang belum pernah berbuah yang mempunyai ruas yang relatif pendek.
4) Sebaiknya pengambilan setek dilakukan pada pertengahan musim penghujan saat pertumbuhan pohon induk atau pohon perbanyakan berada dalam keadaan sehat.
5) Untuk mendapatkan setek dengan daya tumbuh yang baik maka diambil ruas ke ≥ 4 dari pucuk bagian kemudian pucuk sulur dipotong. hal ini dilakukan agar bahan pembangun seperti karbohidrat, asam- asam amino, vitamin dan zat pengatur tumbuh tidak banyak terpakai untuk pertumbuhan dan tertimbun dibagian sulur tanaman.
6) Pengambilan sulur dilakukan 4- 6 minggu setelah pemotongan pucuk sulur. Pada saat itu tunas- tunas sudah mulai aktif dan tampak menonjol di ketiak daun.
7) Sebelum dilakukan pengambilan sulur, terlebih dahulu dilakukan pelepasan akar-akar lekat dari pohon panjatnya. Sulur- sulur tersebut kemudian dipotong – potong sesuai kebutuhan (setek panjang atau setek pendek). Akar – akar lekat yang terdapat pada buku dibuang untuk merangsang keluarnya akar baru.
Gambar 2 : Setek satu ruas berdaun tunggal (A) atau satu buku berdaun tunggal (B) harus disemaikan dahulu sampai 5 -7 ruas baru ditanam dilapang

c. Perlakuan Setek Sebelum Persemaian
1) Umumnya sulur vanili setelah dipangkas dari tanaman tidak mudah layu, karena sulur vanili bersifat sukulen sehingga lebih tahan disimpan. Namun demikian perlakuan setelah pemangkasan sebelum persemaian masih diperlukan.
2) Sulur yang baru dipangkas dari tanaman segera dibawa ke tempat (ruang) yang teduh dimana tempat tersebut akan digunakan untuk kegiatan penyiangan selanjutnya. Sulur dipotong – potong sepanjang 5 -7 ruas untuk setek panjang atau satu ruas berdaun tunggal untuk setek pendek.
3) Setek tersebut lalu disortir dengan cara membuang, setek- setek yang berpenampilan jelak, yang sulur dan daunnya berwarna kuning serta bercak-bercak putih hitam.
4) Sulur yang sehat dicuci dengan air sampai lendir yang ada dibekas pemotongan bersih dan selanjutnya direndam larutan fungisida sesuai konsentrasi 0,2 – 0,3 % selama ± 15 menit. Perlakuan tersebut diperlukan agar luka bekas sayatan pada setek mengering dan tertutup sehingga jamur – jamur patogen tidak mudah masuk dan merusak setek.
5) Selanjutnya setek dihampar diatas kertas Koran atau rak – rak ditempat teduh dan lembab untuk ditiriskan.
6) Untuk mempercepat keluarnya akar, setek dapat diperlakukan dengan menggunakan zat pengatur tumbuh (ZPT).
7) Untuk setek pendek harus disemaikan terlebih dahulu di dalam polibeg sampai tumbuh dan mempunyai 5 – 7 ruas.
Gambar 3 : Penanaman Setek Vanili dalam polibeg ; setek 1 buku berdaun tunggal (A) Setek 1 ruas berdaun tunggal (B).

Untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur, kebun sumber benih vanili yang telah ditetapkan oleh Menteri Pertanian adalah Vanili Alor di Kabupaten Alor sebagai salah satu varietas Nasional dengan Nomor SK 1372/Kpts/SR.120/10/2008, tanggal 08 Oktober 2008 dan kebun sumber benih vanili varietas Alor di Kabupaten Nagekeo yang telah ditetapkan melalui SK Menteri Pertanian Nomor 65/Kpts/KB.020/II/2020 tanggal 02 November 2020
Sumber : Keputusan Menteri Pertanian Nomor 08/Kpts/KB.020/I/2018 Tentang Pedoman Produksi, Sertifikasi, Peredaran dan Pengawasan Benih Tanaman Vanili

Penulis : Yeany M. Bara Mata, SP, Fungsional PBT Muda
UPTD Pengawasan dan Sertifikasi Benih Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2021 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, All rights reserved. Powered by Webtocrat Motion